| Rabu, 18 November 2009 |
| Release RLF Vietnam By Esti |
RLF 2009 VIETNAM RELEASE Melewati proses pendaftaran peserta yang cukup panjang karena jatah kursi yang sangat terbatas dibandingkan anggota Kappija21 yang berminat untuk bergabung dan durasi informasi yang sangat pendek, akhirnya sampailah waktu bagi kami 8 (delapan) orang anggota Kappija21 berangkat menuju negeri eks perang dingin Rusia-Amerika, Vietnam ini. Dengan jadwal dan rute penerbangan yang berbeda-beda akhirnya kami pun sampai dan berkumpul di saat yang semestinya sesuai ketentuan panitia. Setiba di negeri ini sambil menunggu peserta negara lain tiba kami mengisi waktu kosong yang ada dengan jalan-jalan menikmati beberapa lokasi wisata di Hanoi di tengah terpaan sejuknya angin early autumn season-nya Hanoi, sementara sebagian dari kami lainnya mengambil ”1 day tour” Hanoi. (kemana aja destinasi dan berapa biaya bisa off line dengan Mba Daru, Mba Shinta, Sarah atau Didi) Hoan Kiem Lake dan Old Quarter, icon kota Hanoi menjadi sasaran pertama kami. Indahnya ”Jembatan Merah” yang melintang menuju kepuluan kecil di danau menjadi daya tarik utamanya. Sementara di tengah danau sisi yang lain berdiri dengan anggunnya ”Ngoc Son Temple” pagoda kecil yang merupakan tempat keramat dimana seeekor turtle di jaman dahulu muncul dan memberikan sebuah pedang untuk raja berperang. Demikian sejarah singkatnya Hoan Kiem Lake. Setelah kehabisan gaya berfoto dan menikmati Hoan Kiem Lake dari dekat, kami melanjutkan perjalanan di sekitar Old Quarter dan operasi harga di sekitar Dong Xuan Market dan Hang Be Market yang terkenal sebagai pasar grosirnya Hanoi. Rencana awal ingin menikmati pertunjukan wayang goleknya Vietnam yang sangat khas, karena dimainkan di air atau yang lebih dikenal ”Water Puppet Show” dimana kebetulan lokasi theatre terletak tidak jauh dari Hoan Kiem Lake. Tapi sepertinya nasib baik belum menghampiri, kami merasa keletihan yang luar biasa setelah keliling-keliling di seputaran Old Quarter. Dan kami baru sadar bahwa semalaman kami tidak bisa tidur dan harus menahan kantuk sepanjang malam transit di Airport LCCT Kuala Lumpur, karena ada sekelompok penumpang yang ribut menghitung koper-koper mereka yang ’audzubullah banyaknya. Kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat dan mulai mengikuti jadwal pertama RLF 2009; makan malam dan perkenalan dengan panitia dan peserta yang sudah datang. Jepang, Myanmar, Laos, Indonesia dan Vietnam lah yang sudah ada malam itu. Sementara peserta negara lainnya masih dalam perjalanan ataupun baru akan datang esok harinya. Menu makan malam pertama ini sangat beragam, dari mulai tahu goreng tepung, oseng-oseng tahu (begitu kami mendefinisikannya), ikan goreng, sup sayuran, tumis sayuran dan cumi. Melihat porsi makanan yang disediakan dan jumlah orang yang duduk di meja saat itu, dalam pikiran saya sepertinya estimasi panitia akan jumlah peserta yang sudah datang meleset, sehingga jumlah makanan yang tersedia sangat banyak. Kamipun leluasa menyapu setiap makanan yang disediakan. Kenyang dan puas adalah pengalaman pertama makam malam kami di Vietnam. Tidur pun nyenyak sekali karena perut penuh oleh lezatnya makanan Vietnam di hari pertama ini. Hari kedua diawali dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan foto session tiap group/negara peserta dan foto-foto session lainnya. Setelah menikmati coffee break acara pun disambung dengan kuliah umum dari Kementrian Lingkungan Hidup Vietnam. Beberapa pertanyaan terlontar dari partisipan Indonesia, Filipina, Kamboja dan Vietnam sendiri. Tak terasa waktupun telah mendekati waktu untuk makan siang, dengan menu andalan “tahu” kami pun menikmati makan siang yang diawali dengan praktek membuat lumpia basah dan goreng juga mie ayam a la Vietnam. Kenyang dengan menu-menu original a la Vietnam, kami pun dibagi dalam tiga kelompok: kuning, biru dan pink dan diadakan “working group”. Tema yang diusung dalam acara kali ini adalah “How to Promote Youth Involvement to Eco-Tourism Development”. Tantangan pertama adalah menjawab serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan pemahaman tentang isu-isu global warming dilakukan secara individual tetapi skoringnya diakumulasi secara kelompok. Cukup menantang pertanyaan yang ada, karena banyak dari kami yang saling bertanya, karena memang bukan issue yang umum, melainkan sangat akademik. Tantangan kedua berdiskusi sesuai dengan topik di atas, dengan hasil yang siap untuk dipresentasikan di pleno. Bagian terakhir berupa tantangan untuk membuat sebuah konsep “café” dengan perlengkapan yang telah disiapkan oleh panitia yang diibaratkan sebagai re-cycle materials. Sebagai penutup sesi kedua RLF 2009 ini setiap kelompok diberikan waktu 10 menit untuk memperesentasikan hasil diskusi dan konsep café yang telah dibuat. Sebagai puncak dari keseluruhan bagian tersebut di atas, panitia akan memilih kelompok dengan nilai tertinggi dan akan diberikan hadiah. Yuhuuuuuu.. semoga kelompok saya yang menang ya... itu adalah teriakan dan doa dari setiap peserta !!! Hanya dengan waktu 30 menit, agenda kami bergeser ke undangan makan malam yang dijamu oleh Ketua VACYF di sebuah restoran masakan China di dekat hotel dimana kami tinggal. Ditengah-tengah acara makan malam, kamipun diajak panitia untuk berpartisipasi dan berdonasi untuk para korban topan Vietnam yang melanda tidak kurang 6 propinsi di negeri ini. Panitia meminta Esti Utami (Indonesia) untuk menghitung dan membacakannya sekaligus menyerahkan hasil sumbangan terkumpul kepada Chairman VACYF untuk diteruskan kepada para korban taipon Vietnam. Uang yang terkumpul selama 20 menit ini sekitar VD 2.095.500 dan USD 70. Acara makan malam pun selesai ditutup dengan foto session di seluruh bagian restoran yang penuh dengan ornamen dan hiasan bernuansa China ini. Hari ketiga RLF 2009 dibuka dengan kunjungan ke pabrik pengolahan sampah Hanoi. Bau sampah yang sangat menyengat tidak menyurutkan peserta untuk selalu mengambil shoot foto dan bergaya, baik pose sendirian, berdua maupun berkelompok. Setelah banyak mendapat informasi tentang proses pengolahan sampah menjadi kompos atas sampah-sampah yang masuk dari seluruh kota Hanoi ini, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Sepertinya kita akan langsung menuju ke Halong Bay. Tanpa kami sadari kami pun dibawa ke sebuah restoran asli Vietnam. Setelah ”menikmati” aroma sampah kota Hanoi, jamuan berikutnya yang telah menunggu adalah menu buffet istimewa khas Vietnam dari restoran Vietnam di jantung kota Hanoi. Perut kami pun penuh terisi dengan berbagai menu Vietnamese. Entah darimana datangnya, tiba-tiba kami mendapat informasi kalo Kedutaan Indonesia berada 2 blok dari restaurant tempat kami berada saat itu. Tanpa membuang waktu kami pun meluncur dan berfoto-foto dengan suksesnya di depan kedutaan kebanggaan kami Bangsa Indonesia. Puas berfoto, kami pun mendapat panggilan untuk segera beringsut melanjutkan perjalanan menuju Halong Bay. Menuju Halong Bay adalah sebuah perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan. Setelah menempuh perjalanan 3 jam dengan bis dan terjebak macet karena terjadi kecelakaan antara mobil sedan dengan truk, kami istirahat sekitar 40 menit, diisi dengan menunaikan ”hajat”, mencicipi jajanan khas Vietnam, green tea yang luar biasa rasanya dan kami menamainya ”brotowali” dan es krim di pemberhentian bis. Cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Halong Bay. Sekitar puul 17.30 kami sampai di Halong Bay Hotel. Begitu pintu bis terbuka, kami semua langsung betebaran mengadu pose. Jepret sana sini, ada yang beach background, hotel background sampai bus background. Puas berpose, kami masuk dan check in. 45 menit adalah waktu yang tersedia untuk istirahat dan berganti kostum dengan traditional attire untuk welcoming dinner and exchange art performance dengan local youth Halong Bay. Makan malam kali ini diawali dengan toast red wine sebagai lambang persahabatan antara ASEAN and Japan Youths. Sambil menikmati makan malam, satu demi satu negara menampilkan kesenian tradisionalnya. Dan begitu tiba giliran Indonesia, kegemparan panggung pun dimulai. Diiringi musik talempong khas Sumbar, satu persatu peserta Indonesia menampilkan kebisaan berseninya. Dibuka dengan tari tor-tor oleh Sarah dengan kostum kebaya dan batik khas Jawa, kemudian Didi dengan penuh ketegapan dan kelihaian berbela diri mempersembahkan Silat Sunda yang dibawakan dengan balutan kostum Betawinya. Penampil selanjutnya adalah Yuli dengan kebaya khas Balinya yang merah menyala menjadikan lenggok Legong Bali bersinar malam itu. Menyusul di belakangnya Goyang Yapong khas Jakarta yang dibawakan oleh Daru yang berbusana Bodo-Sulawesi Selatan menambah semarak Penampilan Indonesia. Masih dengan iringan musik yang sama, Shinta masuk panggung dengan langkah gemulai nan seksi Ngremo Jawa Timuran berbusana jumputan khas Palembang. Dengan lambaian tangan dan sorot mata seksinya yang khas memanggil Eva & Esti untuk menutup penampilan Indonesia dengan Tari Piring. Gelegar Musik talempong dan gerakan menakjubkan memutar piring di tangan dari semua penari Indonesia membuat malam itu menjadi sangat panas dan menyuntikkan adrenalin tersendiri sehingga penampilan negara-negara sesudahnya menjadi penuh semangat dan high energy. Tak lengkap rasanya penampilan kontingen Indonesia kalau tidak didukung dengan dokumentasi yang lengkap berupa video yang digawangi oleh Rifo sebagai videographer andalan kami. Puas dengan penampilan semua negara, acara ini diakhiri oleh penampilan tuan rumah membawakan lagu Vietnam-Ho Chi Minh. Kegiatan hari ini ditutup dengan belanja dan menikmati pasar malam di Halong Bay. Pancaran matahari pagi yang sangat indah, menemani seluruh peserta check out dari Hotel Halong Bay dan melanjutkan perjalanan menikmati Halong Bay yang terkenal itu. Dengan dua buah kapal yang cukup besar, kami diantar menuju salah satu cagar budaya UNESCO di Vietnam ini. Seperti biasa, sepanjang perjalanan menuju Halong Bay tak pernah lepas dari aksi kamera dan pose-pose menawan dengan latar belakang kapal, perkampungan nelayan dan gunung karang nan terjal menjulang ciri utama kawasan Halong Bay tentunya. Tak ketinggalan kami pun menyambangi kissing stone di tengah lautan Halong Bay. Sesampai di pintu gerbang Halong Bay, kami semua turun dan mulai menaiki tangga menuju gua karang terbesar di dunia. Meskipun baru ditemukan sekitar 30 tahun yang lalu, tetapi proses pembentukan stalagtit dan stalagmit oleh tetesan air tanah menjadi aneka ragam bentuk tersebut telah terjadi ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu. Keindahan di dalamnya sungguh luar biasa, ada yang berbentuk kepala naga, jempol tangan dan kebanyakan menggambarkan pepohonan dan hutan, sehingga rangkaian stalagtit dan stalagmit tersebut bagaikan hamparan hutan nan luas di dalam perut bumi ini. Puas berfoto dan menikmati keindahan anugerah alam ini, kami pun kembali ke kapal untuk menikmati keindahan akan anugerah alam lainnya beruapa makan siang seafood a la Vietnam pastinya. Selepas makan siang dan kenyang, kami pun sampai di dermaga Halong Bay dan menunggu kedatangan bis sekitar 1 jam di tengah udara panas pantai Halong Bay. Sambil menunggu bis, panitia meminta peserta untuk mengisi formulir bahwa Halong Bay dijadikan salah satu ”wonder world” di counter tourism office Halong Bay. Bis datang, kami pun langsung masuk dan berangkat menuju Hanoi. Perjalanan berhenti sejenak di sebuah pemberhentian. Seperti biasa diisi dengan kegiatan rutin: adu jepret sana-sini, menunaikan ”hajat”, berbelanja souvenir dan makanan ringan khas vietnam tak ketinggalan pula membeli si ”brotowali”. Di pemberhentian kali ini ada hal yang berbeda dengan tempat pemberhentian lainnya, karena souvenir kerajinan bordir tangan di sini dikerjakan oleh para penyandang cacat. Sehingga selain kita membeli oleh-oleh kita juga berpartisipasi untuk memberikan kelangsungan usaha para insan yang memiliki ”kelebihan” ini. Perjalanan berlanjut dan sekitar pukul 17.30 kami sampai di Tay Ho Hotel tempat awal kami mengikuti RLF 2009 ini. Setiba di Tay Ho seluruh peserta langsung berhamburan keluar bis dan mengambil luggage yang ditinggal, check in dan langsung berganti pakaian untuk acara selanjutnya yaitu penutupan RLF 2009. Keahlian peserta yang benar-benar diuji pada RLF kali ini adalah bagaimana mengoptimalkan waktu yang sangat terbatas (sekitar 30-45 menit) setiap kali pergantian waktu dari satu acara ke acara berikutnya dan kami harus berganti pakaian tradisional lengkap. Pada penutupan kali ini, delegasi Indonesia mendapat kehormatan untuk memberikan satu-satunya sambutan mewakili peserta sekaligus mempresentasikan hasil diskusi dan rekomendasi RLF 2009 Vietnam. Makan malam dengan menu buffet Vietnam, sesi foto sana sini, bertukar cenderamata antara negara dan antar peserta, pose sana-sini dan dengan setiap orang, maka sampailah pada acara puncak penutupan RLF 2009 ini yaitu pengumuman kelompok terbaik dari RLF 2009 yang jatuh pada kelompok biru.... HORAAAAAY........... Dapet hadiah kaos ”Good Morning Vietnam”.... Hadiah diserahkan langsung oleh Chairman VACYF yang sangat mempesona setiap cewek-cewek malam itu.... berakhir sudah RLF 2009 Vietnam, sambutan dari perwakilan Host RLF 2010 Cambodia menutup acara. Sampai jumpa di RLF 2010 di Kamboja !!!! Meskipun secara resmi RLF 2009 Vietnam telah berakhir akan tetapi perjalanan para kontingen belum berakhir, demikian pula dengan Kontingen Indonesia. Sesaat setelah penutupan panitia menyediakan transportasi bagi peserta untuk menikmati suasana malam minggu di down town Hanoi yang sangat sibuk dan padat dengan lalu lintasnya. Kami pun semua sampai di simpang limanya Hanoi yang terletak tepat di depan Hoan Kiem Lake. Setelah lelah mengitari area pasar malam Hanoi, kami pun mengarahkan kaki mencari warung kopi untuk duduk dan menikmati suasana malam Hanoi. Puas dengan cappuchino, kamipun kembali ke hotel karena sebagian besar dari kami akan melanjutkan petualangan di Ho Chi Minh keesokan harinya. Tak lengkap rasanya kalau catatan perjalanan kami selepas RLF 2009 Vietnam ini tidak ditambahkan. Yakin sekali bahwa informasi ini bisa dijadikan referensi teman-teman Kappija21 yang kemarin tidak jadi bergabung di RLF 2009 Vietnam, mungkin berencana untuk melakukan perjalanan sendiri. Berikut catatannya..... Sekitar pukul 07.00 pagi kami bertemu di sarapan pagi dan melepas Mba Shinta, Mba Daru, Didi dan Sarah berangkat bersama-sama Kontingen Kamboja dan sebagian Kontingen Thailand & Philipina menuju Ho Chi Minh. Disusul sekitar pukul 09.00 Mas Rifo & Mba Yuli ke tujuan yang sama. Kami berdua (Esti & Eva) masih tinggal 1 hari menikmati kota Hanoi. Tak lama setelah pasangan Rifo-Yuli berangkat, kami pun bersama-sama dengan sebagian besar Kontingen Philipina meluncur ke down-town Hanoi untuk berganti hotel dan melajutkan perjalanan menyapu bersih obyek-obyek wisata utama Hanoi. Sebelumnya kami telah memesan tiket Water Puppet Show, karena kami tidak mau kehabisan tiket atau tidak kebagian jam tayang. Tujuan pertama kami hari ini adalah Ho Chi Minh Mausoleum. Setelah berdiri mengantri melewati penjagaan yang cukup ketat dan beberap post pemeriksaan, dibawah terik matahari Hanoi, akhirnya kami pun sampai di depan peti jenazah Ho Chi Minh yang sangat diagung-agungkan masyarakat Vietnam ini. Udara sangat dingin menyambut begitu kami menapakan kaki di tangga pertama memasuki bangunan mausoleum yang tinggi dan menjadi salah satu icon Vietnam ini. Udara semakin dingin ketika kami mulai menapaki tangga satu demi satu masuk ke dalam bangunan berdinding batu granit tanpa jendela ini. Di bawah pengawasan super ketat dan lampu sorot yang cukup redup, berbaring dengan tenangnya Ho Chi Minh yang berkulit sangat putih dengan jenggot khasnya dan berpakaian jas hitam lengkap di tengah kotak kaca berukir yang disepuh emas yang terletak sekitar 3 meter dari jangkauan pengunjung. Tidak lebih dari 2 menit kami mengitari bagian tengah bangunan berbentuk segi empat agak menjorok ke dalam yang dikawal 4 orang tentara di keempat sudutnya di mana tubuh Ho Chi Minh terbaring. Tak ada sepatah katapun terdengar, hanya sesekali ada isak tangis tertahan dari beberapa pengunjung yang sepertinya adalah warga Vietnam asli. Begitu kami jauh dari bangunan utama, salah seorang dari teman Philipina tiba-tiba berbisik ”Siapa sih Ho Chi Minh itu ?”. Berawal dari pertanyaan tersebut, canda kami sepanjang hari seringkali diwarnai dengan hal-hal yang berbau Ho Chi Minh dan Vietnam. Meskipun Museum Ho Chi Minh terletak tidak jauh dari Mausoleum, kami putuskan untuk tidak mengunjunginya tapi kami berlanjut untuk memasuki Presidential Palace dan Bach Tao Park. Presidential Palace merupakan bangunan berwarna kuning kunyit megah berdiri di salah satu pojok taman samping mausoleum yang dahulu dijadikan kantor sekaligus tempat tinggal Ho Chi Minh pada masa pendudukan Portugis. Begitu penjelasan yang sepintas kami dengar dari tour guide tetangga (karena kami tidak mau mengeluarkan uang untuk menyewa Tour Guide, jadi gratisan aja kita ikut mendengarkan tour guide tetangga). Setelah mengambil gambar beberapa shoot karena tidak diijinkan, maka kami pun mengayun langkah menuju Bach Thao Park yang merupakan halaman samping belakang dari Presidential Palace. Bagian belakang ini terdiri dari bangunan yang memajang tiga buah kendaraan yang pernah digunakan oleh Ho Chi Minh semasa menjabat. Bagian lain di dalamnya adalah rumah kayu khas Vietnam berwarna hijau yang berdiri anggun di depan danau buatan di tengah taman. Rumah ini merupakan rumah gaya pegunungan di Vietnam yang dulu merupakan rumah peristirahatan Ho Chi Minh. Hal menarik di dalam taman ini adalah adanya sebuah jalan yang sepanjang jalan hanya ditanami pohon mangga sehingga di sebut ”Manggo Road”. Terbayang jika pohon mangga tersebut sedang berbuah... menarik sekali pastinya. Sedikit lelah kami melanjutkan perjalanan mengambil titipan tas kami, karena waktu sudah mendekati pukul 11.00 dimana loket akan tutup pada pukul 11.30 - 14.00. Kami tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk menunggu kami pun bergegas menuju pintu keluar dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Van Mieu Temple. Van Mieu Temple memiliki dua buah pintu gerbang yang sangat cantik dan unik. Para wisatawan hanya bisa memasuki bagian sayap sebelah kanan saja. Maski demikian kecantikan dan keindahan masa lalu masih tergambar jelas di sana. Taman depan yang rindang dan ornamen merah dan emas khas China sangat kental di dalamnya. Panas matahari sangat menyengat Hanoi saat itu, ditambah panggilan alam karena sudah saatnya makan siang, kami pun meluncur ke Cha Ca Road dan mencari sebuah restaurant yang sangat terkenal meskipun hanya memiliki satu macam hidangan yaitu ikan dan sayuran saja. Sampailah kami di sana, tapi karena sudah jam makan siang, maka seluruh meja pun telah penuh terisi dan kami mesti sabar menunggu giliran. Setelah sesaat menunggu kami mendapatkan meja yang kosong dan kami mulai memesan makanan. Meskipu kemampuan Inggris mereka sangat terbatas, kami tidak menemui kesulitan dalam memesan makanan, karena mereka hanya punya satu jenis makanan saja, kita tinggal bilang untuk berapa orang itu saja. Potongan sayuran hijau, bihun putih bersih dari beras, saus ikan, kacang tanah goreng dan potongan cabe pun telah terhidang sangat cepat. Tetapi kami belum bisa menikmati makan siang kami karena hidangan utama belum keluar. Sesaat menunggu datanglah si ikan potong goreng dalam wajan panas di atas bara batubara segera terhidang di meja. Tanpa menunggu lama, kami pun segera menuangkan sayuran yang ada dan langsung dimasak dengan ikan. Dalam hitungan detik, di sayur pun siap untuk di santap dan kami mulai menikmati hidangan khas a la Cha Ca La Vong yang termasyur ini. Menikmati hidangan langka resep turun temurun a la Cha Ca La Vong ini memang mesti merogoh kocek cukup dalam VD 100.000/orang tidak termasuk tisue basah dan minuman yang kita inginkan. Tapi kami puas dan kenyang siang itu. Terbayar sudah rasa penasaran dan lapar kami. Perjalanan selanjutnya adalah Vietnam History Museum. Dengan tiket seharga VD 25.000 kami bisa melihat berbagai macam kebudayaan masyarakat Vietnam dahulu dan sekarang. Di sana juga disediakan audio center dimana pengunjung dapat menikmati video-video documenter kehidupan dan budaya masayarakat setempat. Di tengah kami menikmati sajian budaya Vietnam, tiba-tiba telp berdering dan kami mendapat berita bahwa kami tidak mendapat tiket water puppet show untuk hari ini. Semua kursi dan jam tayang sold out. Dengan perasaan kecewa, kami pun kemudian melanjutkan menikmati outdoor exhibition di museum ini. Dan sayaup-sayup terdengar dari kejauhan bunyi pertunjukkan yang pada awalnya kami merasa `terganggu dengan suara ribut dan ramai tersebut. Ternyata setelah ditilik lebih dekat suara itu adalah pertunjukan wayang air yang kami inginkan. Ketika kami sampai di lokasi pertunjukkan sudah sampai di bagian akhirnya. Kami pun mencari informasi apakah masih ada show berikutnya. Rupanya nasib baik milik kami, mereka masih memiliki show terakhir jam 16.00. sambil menunggu show berikutnya, kami pun mengisinya dengan menikmati seluruh bagian dari outdoor exhibition yang terdiri dari rumah khas gaya Vietnam dan kerajinan-kerajian khasnya. Di tengah kantuk yang melanda sebagian besar dari kami, akhirnya Water Puppet Show yang kami tunggu-tunggu pun mulai. Akhirnya... semua keinginan kami telah terpuaskan. Perjalanan hari ini berakhir di Dong Xuan Market dan Old Quarter. Teman-teman Philipina terbang ke Ho Chi Minh dan kami masih menginap malam ini di Hanoi. Sampai jumpa di Ho Chi Minh teman..... Esok harinya jam 4 dinihari kami sudah meluncur menuju Bai Noi Airport untuk melanjutkan petualangan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam 10 menit, kami pun tiba di Ho Chi Minh Airport dan langsung meluncur menuju Reunification Palace. Tapi rupanya di gedung ini sedang diadakan acara sehingga baru akan dibuka pada pukul 15.00. Karena Eva sedang terserang sakit gigi, kami pun berpurtar-putar mencari pharmacy di sekitar Reunification Palace ini. Akhirnya kami mendapatkan apa yang kami cari sekaligus kami bergabung lagi dengan teman-teman Indonesia yang telah dulu sampai di kota ini. Indahnya bangunan Notre Dame Basilica dan The Saigon Central Post Office tidak luput dari jepretan kamera kami. Demikian pula dengan bagian depan bangunan Reunification Palace dan taman yang terbentang membentang di depannya menjadi ajang pose kami semua. Meskipun belum puas rasanya berpose, tapi panggilan dari perut kami sudah tidak dibendung lagi, sehingga kami langsung meluncur menuju Bombay restaurant yang terletak tidak jauh dari Saigon Opera House. Semua makanan yang terhidang pun tandas disikat. Dan sementara beberapa dari kami menunaikakn sholat di masjid sebelah Sheraton Saigon Hotel, kami tidak melewatkan waktu hanaya untuk menunggu, tetapi kilatan lampu blitz selalu menyala dan mengabadikan setiap pose yang kami buat. Tujuan selanjutnya setelah semua berkumpul adalah Ben Thanh Market. Pertama kali kaki kami menginjak lantai Ben Thanh Market, udara panas Ho Chi Minh langsung menyapu muka dan kami pun bersimbah keringat begitu kami semakin dalam memasuki setiap lorong di pasar grosir Ho Chi Minh ini. Setelah kami mendapatkan apa yang kami inginkan, sebagian dari kami kembali ke hotel tempat dimana mereka tinggal malam sebelumnya untuk re-packing, check out dan persiapan terbang kembali ke Jakarta. Sedangkan kami bersama dengan salah seorang teman dari Philipina menyelinap sejenak untuk berfoto di depan Saigon Opera House dan suasana jalanan di depannya yang cukup menarik, karena sekelilingnya dipenuhi bangunan tua bergaya victorian. Kami sangat bersemangat dalam sesi foto kali ini, karena energy kami telah kembali setelah di-upgrade dengan minuman dan makanan lezat di Lemongrass Restauran di Jalan Dong Khoi. Selesai sesi foto kami pun meluncur langsung ke Hotel Asian Ruby yang ternyata walking distance dari Ben Thanh Market untuk bersama-sama menuju Airport kembali ke Tanah Air. Setelah say good bay kami memasuki taxi besar kami dan menikmati perjalanan menuju airport yang cukup padat saat itu. Sekitar 90 menit perjalanan, tepat pukul 18.00 kami tiba di Airport langsung check in dan menunggu waktu untuk lepas landas. Tepat pukul 20.30 kami pun lepas landas dan perjalanan kali ini kami benar-benar lelah, sehingga kami tertidur sepanjang penerbangan. Terbangun begitu pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat di Jakarta terdengar. Sampailah kami di Tanah Air tercinta dengan selamat dan sehat walafiat. Sampai jumpa di cerita perjalanan Kappija21 DKI Jakarta berikutnya dengan waktu dan tempat yang berbeda serta pengalaman yang lebih menarik lainnya.
Chaooooo
EU |
posted by Unknown @ 22.53  |
|
|
|
|
| |
| About Me |
|
![]()
Name: Unknown
Home:
About Me:
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Sponsor |
|
Ads here
|
| Links |
- link 1
- link 2
- link 3
- link 4
|
| Powered by |
 |
|
Posting Komentar